Senin, 22 September 2014

Tidak Ada

Menjadi tidak ada itu menyenangkan. Kita bisa melihat segala sesuatunya secara jernih. Kita bisa melihatnya secara apa adanya. Dan kita juga bisa ikut tertawa meski pada saat kita lah yang sedang ditertawakan. Hidup menjadi ringan tanpa beban. Kenapa? Karena kita tidak terikat dengan apapun. Kita menjadi manusia merdeka. Manusia yang bebas dari semua-semua yang mengikat seperti aturan, nilai, dan terutama ego. Karena kita kembali ke  hakikat kita : tidak ada.

Yang Maha Tunggal

Banyak yang ingin mendengar suara Tuhan, tapi ego mereka terlalu berisik. Jika makhluk itu fana alias keberadaannya tidak ada, karena satu-satunya yang ada hanyalah Tuhan, maka mana mungkin akan terdengar suara Tuhan. Suara makhluk dan suara Tuhan tidak dapat bersatu. Karena tidak ada dualisme. Yang ada hanya satu. Esa. Tunggal. Satu-satunya cara menjumpai Tuhan ialah dengan meniadakan diri. Lenyap. Sehingga hanya ada satu-satunya yang Maha Ada. Dialah yang Hakiki. Yang Maha Tunggal.

Kosongkan Bejana

Setiap yang kosong akan selalu terisi. Setiap yang isi, akan selalu dikosongkan. Supaya isi dapat berganti giliran.
Apabila bejana dibiarkan saja dalam keaadaan penuh, maka air akan tumpah.
Bejana harus selalu dikosongkan untuk diisi dengan air yang selalu segar.

Udara

Segala sesuatu yang bening dapat digunakan sebagai cermin. Segala yang indah meski berwarna-warni namun tak memiliki sisi bening, tak akan memiliki sifat cermin yang memantulkan bayangan.
Bening adalah nyata, hanya tampaknya tidak ada. Seperti udara, ia tak berwarna, namun ada dan merupakan faktor yang penting bagi keberlangsungan kehidupan.
Udara ada, namun selalu memberikan ruang bagi siapa saja yang akan mengisi. Zat yang paling sering dilupakan namun sangat esensialis.
Ada benarnya orang yang mengumpamakan Tuhan dengan udara. Keduanya sama-sama seolah tak ada, namun ada. Ada, namun tak ada.

Sedang apa, tuhan?

Barangkali tuhan memang sedang berlibur, makanya manusia-manusia sekarang gemar meneriakkan namaNya. Seolah-olah tuhan sedang asyik menuli tak mendengarkan suara mereka.
Barangkali tuhan memang sedang malas mengurus manusia, makanya manusia-manusia sekarang sibuk mengurusi urusan tuhan. Membuat daftar penghuni surga dan neraka, serta yang beriman dan kafir.
Barangkali tuhan memang sudah acuh tak acuh terhadap amal perbuatan manusia, makanya manusia sekarang berlomba-lomba mengenakan atribut agama hanya demi mendapatkan pengakuan dari manusia-manusia yang lain bahwa dirinyalah yang paling beriman.
Atau barangkali tuhan memang sudah menua sehingga daya penglihatannya pun menurun, makanya manusia menampak-nampakkan dan menghitung-hitung amal mereka sendiri.
Mungkin saja bagi sebagian orang, Tuhan sudah tak menjabat sebagai Tuhan, sehingga manusia perlu berteriak-teriak sekuat tenaga demi membela hukum Tuhan.
Namun jika Tuhan memang sudah tak menjabat Tuhan, lalu sebenarnya siapa yang sedang mereka bela?

Ken Arok vs Tunggul Ametung, Siapa Benar?

Saya teringat kisah pembunuhan yang dilakukan oleh ken arok terhadap tunggul ametung. Jika dilihat dari sisi moral baik dan buruk, ken arok jelas adalah pihak yang bersalah sepenuhnya atas kejadian itu. Apalagi jika dilihat lagi dari sisi agama. Setiap pemuka agama akan menyalahkan tindakan ken arok yang nekad membunuh tunggul ametung. Karena dalam agama apapun, pembunuhan terhadap manusia manusia adalah merupakan dosa besar.
Ken arok membunuh tunggul ametung bukan karena dendam, emosi, ataupun harta apalagi tahta. Alasan satu-satunya, sejauh yang saya tahu, adalah karena ia terpikat oleh kecantikan paras yang dimiliki istri dari tunggul ametung yang bernama Kendedes. Barangkali, niat di dalam hati ken arok tiba-tiba muncul dan mendobrak sanubarinya, membangunkan nafsu kebinatangan yang tidur di dalamnya. Karena telah memandang betapa mulus dan bercahaya paha daripada sang juwita kendedes. Hingga ia dengan segenap kesungguhan hati, memberanikan diri untuk mencuri keris ampuh buatan mpu gandring yang kelak akan digunakannya untuk membunuh suami daripada kendedes. Sampai pada persepsi ini, ken arok adalah seorang kesatria bajingan dan biadab yang rela mengorbankan reputasinya sendiri hanya demi wanita yang dicintainya yang sudah menjadi hak orang lain.
Namun, bagaimanapun ken arok hanyalah memainkan perananya.Dan dia adalah manusia biasa yang dianugrahi akal dan nafsu yang ada di dalam dirinya. Apalagi pada dasarnya segala yang terjadi di alam raya ini sebesar dan sekecil apapun, adalah tak pernah luput dari penglihatan dan seijin Yang Maha Kuasa.
Saya justru respek kepada ken arok yang teguh dan berani mewujudkan apa yang dicita-citakannya. Meskipun ia halalkan segala cara untuk menggapainya. Jika saja tunggul ametung tak pernah menampakkan sosok istrinya kepada publik, sehingga tidak ada seorangpun yang pernah melihat kecantikan kendedes, maka tak akan pernah terjadi peristiwa pembunuhan terhadap dirinya.

Selasa, 10 Desember 2013

Kebahagiaan Raga Jiwa

Semenjak dilahirkan, betapa manusia sudah kaya. Ia dibekali raga dan jiwa. Sebagai alat untuk menerima segala yang dibutuhkannya di muka bumi. Semuanya sudah dipersiapkan untuk selama perjalanannya hingga di akhir hayat.

Raga terdiri dari bagian-bagiannya. Bagian terluar adalah bagian yang tampak, seperti kulit. Dilengkapi dengan panca indra yang mempunyai fungsinya masing-masing. Bagian dalam jauh lebih beragam dan vital. Karena bagian dalamlah yang menggerakkan apa-apa yang diluar. Seperti otak, jantung, dan paru-paru. Dan jauh lebih dalam lagi yaitu jiwa, yang lebih tak tampak daripada organ-organ dalam. Kesemuanya adalah anugrah yang tiada tara. Betapa Tuhan telah membekali manusia dengan bekal yang teramat sempurna. Oleh karenanya dalam kitab suci manusia disebut sebagai ciptaanNya yang paling sempurna. Bahkan di atas malaikat. Meskipun malaikat disebut sebagai makhluk yang selalu patuh.

Untuk memenuhi segala kebutuhannya selama perjalanan hidup yang harus dilalui, maka manusia hanya perlu mengambil hak dari apa-apa yang setiap saat Tuhan anugrahkan kepada manusia. Adapun bila ia tak mengambil haknya juga tak apa.

Ketika lahir, tanpa perlu meminta ia diberi pakaian oleh Tuhan melalui kedua orang tuanya. Ia menerima berbagai kehangatan dan kasih sayang dari orang-orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Lalu diajari berjalan dan berbicara. Tanpa perlu membayar seorang pelatih untuk mengajarinya. Seandainya setiap bayi yang lahir harus diajari oleh seorang pelatih profesional untuk berjalan dan berbicara, betapa banyak manusia yang bisu dan lumpuh di setiap negara yang perekonomiannya tak maju. Namun Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Dialah yang mengajari dan memenuhi segala kebutuhan makhluknya.

Namun, dunia telah berubah semenjak manusia beranjak remaja. Apa-apa yang dibutuhkannya harus ditukar dengan mata uang. Mulai kebutuhan untuk mencari ilmu yang konon harus dicapai melalui bangku sekolah, sampai kepada kebutuhan untuk menyelenggarakan pernikahan yang juga harus dicapai dengan mata uang pula. Sehingga semakin manusia tumbuh seolah-olah Tuhan semakin jauh dan tak memperhatikan manusia. Ya, sejak ketika manusia percaya bahwa segalanya membutuhkan uang. Karena segala yang dibutuhkan manusia harus ditukar dengan alat tukar yang berupa kertas maupun koin tersebut.

Dicarinya siang malam, kaki di kepala, kepala di kaki, demi memenuhi kebutuhannya. Satu terpenuhi dan yang lain muncul, begitu seterusnya. Karena seperti itulah hidup.

Dahulu kita tahu bahwa kebutuhan pokok manusia hanyalah sandang, pangan, dan papan. Lalu jaman terus berganti. Namun, semakin maju, bukannya manusia semakin ayem dalam menjalani hidupnya, malah semakin sibuk dan capek. Semakin banyak yg menjadi kebutuhannya. Seperti alat komunikasi, transportasi, dan berbagai jenis kebutuhan yang lain. Semua berlomba-lomba mencari uang, sikut sana sikut sini, nyinyir dan saling dengki ketika apa yang dimiliki oleh teman atau tetangganya tak ia miliki. Betapa ramai, panas, dan menjemukan.

Barangkali memang ketika segala kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan, dan segala kelengkapan di zaman modern ini terpenuhi manusia lalu mendapatkan kebahagiaannya yang berupa kepuasan dan kenyamanan. Namun kepuasan dan kenyamanan sesungguhnya hanyalah kebahagiaan yang diperoleh oleh raga saja. Sedangkan manusia tak hanya terdiri dari raga, tapi juga jiwa. Jika demi kebahagiaan raga saja kita harus rela menukarnya dengan mengorbankan apa yang kita miliki seperti waktu, pikiran, dan tenaga, lalu apa yang siap kita berikan demi kebahagiaan jiwa?